Senin, 21 Februari 2011

Terimakasih untuk ibu dosenku

KREATIFITAS PEMBENTUKAN KATA BARU PADA PROSES MORFOLOGI
DALAM BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS

M. Zamachsari
107835026


Abstrak
Kreatifitas pengguna bahasa dalam menciptakan kata baru menjadi sangat menarik untuk diteliti karena dari kreatifitas ini dapat ditarik benang merah untuk merumuskan pola yang dapat dijadikan pedoman bagi pengguna bahasa yang lain dalam membentuk kata baru. Meskipun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa ketidak ajegan tidak dapat dihindari. Dari dua sumber data dalam penelitian ini, yaitu majalah Weekender dan majalah Tempo diperoleh 37 kata baru dalam bahasa Inggris dan 52 kata baru baru dalam bahasa Indonesia. Semua kata baru ini dikategorikan dalam kelompok proses pembentukan kata tak terpola. Hal ini karena kata baru ini dibentuk cenderung secara sembarang oleh pengguna bahasa tanpa mematuhi kaidah dalam proses pembentukan kata terpola. Akan tetapi setelah dikelompokan dan diidentifikasi, beberapa pola masih mampu dilahirkan oleh proses ini.

Kata Kunci: pembentukan kata terpola, pembentukan kata tak terpola, clipping, blending, coinage, akronim, formasi campuran.

1. Pendahuluan
Salah satu cabang ilmu linguistik adalah morfologi yang merupakan kajian linguistik yang berhubungan dengan satuan fungsional yang disebut morfem; morfem ini merupakan satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna. Chaer (2008) menyebutkan bahwa di dalam hierarki linguistik, kajian morfologi berada di antara kajian fonologi dan sintaksis. Ini berarti kajian morfologi akan memiliki keterkaitannya dengan fonologi atau sintaksis. Dalam keterkaitannya dengan fonologi, maka proses morfologi berhubungan dengan perubahan fonem, atau yang disebut morfonologi atau morfofonemik; sedangkan proses morfologi juga dapat terjadi bersamaan dengan proses sintaksis, dimana kajian ini disebut morfosintaksis.
Kajian morfologi, salah satu bahasan kajian dalam cabang ilmu linguistik adalah kajian tentang proses pembentukan morfem hingga menjadi kata. Dalam kaitannya dengan masalah pembentukan kata, Yule (1985:19) mengatakan bahwa bahasa merupakan medium dari sebuah manipulasi linguistik. Manipulasi linguistik terjadi karena pengguna bahasalah yang melakukan manipulasi terhadap sumber-sumber linguistika untuk menghasilkan ekspresi bahasa dan kalimat-kalimat yang baru. Dengan kata lain pengguna bahasa dengan upayanya memanipulasi bahasa mengakibatkan sebuah bahasa dapat digali dan diperkaya dengan lebih kreatif lagi. Sebagai konsekuensinya, kata baru terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan berkomunikasi. Pada jaman dahulu di mana teknologi belum berkembang seperti saat ini, sebagai contoh kata ‘internet’ tidak pernah dikenali, sekarang ketika teknologi berkembang begitu pesat kata tersebut menjadi sangat familiar.
Kreatifitas pengguna bahasa menambah kosa kata suatu bahasa berkembang begitu cepat dan sangat kaya; kreatifitas ini tampak ketika kata baru yang muncul merupakan hasil konversi dari kata yang telah muncul sebelumnya. Misalnya kata ‘Xerox’, kata ini sangat familiar di tengah masyarakat dan masyarakat mengetahui bahwa kata ini merupakan kata benda yang dipergunakan untuk memberi nama pada produk mesin foto kopi di Indonesia; akan tetapi dalam penggunaanya, kata ini berubah fungsi dari kata benda menjadi kata kerja atau predikat dalam kalimat. Misalnya seperti ujaran berikut ini:
“Mengapa hasil fotokopi dokumen ini tidak jelas, sebaiknya di-xerox saja supaya memperoleh hasil yang maksimal”
Kata ‘xerox’ diambil dari merk sebuah produk mesin fotokopi yang memiliki kualitas hasil fotokopi yang baik. Di dalam konteks ujaran tersebut kata ‘xerox’ tidak merujuk pada mesin melainkan kata kerja yang memiliki makna ‘mengkopi dengan mesin fotokopi ‘xerox’. Dari ujaran tersebut jelas bahwa telah terbentuk sebuah kata baru yang berasal dari nama benda atau merek yang telah memasyarakat dan dikenal luas oleh banyak orang.
Sering pula dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, pengguna bahasa memotong penggunaan suatu kata sehingga menjadi lebih pendek, dalam bahasa Indonesia kata semacam ini muncul dalam penggunaannya sebagai term of address; kata bu merupakan perpendekan dari kata ibu; pak dari bapak, dik dari adik, dan masih banyak contoh menarik lainnya.
Apabila diperhatikan, uraian tersebut banyak mendiskusikan sebuah proses pembentukan kata, di mana proses ini terjadi karena hasil kreatifitas pengguna bahasa. Tidak dapat dipungkiri bahwa proses tersebut telah mampu memperkaya jumlah kosa kata dalam bahasa, tidak terkecuali dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Yang lebih menarik dalam permasalahan ini adalah terjadinya proses morfologi ketika sebuah kata baru terbentuk. Karena ada sebuah proses, diasumsikan adanya keajegan atau ketidak ajegan yang tidak dapat dihindari. Makalah ini mencoba membongkar proses tersebut serta mencari konsistensi di tengah proses kreatif pengguna bahasa yang telah menyumbangkan kosa kata baru dalam sebuah bahasa.

1. Permasalahan
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu, penelitian ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan berikut ini.
a. Kata apa sajakah yang muncul sebagai kata baru sebagai hasil kreatifitas pengguna bahasa?
b. Proses morfologi manakah yang terlibat dalam pembentukan kata tersebut?
c. Adakah persamaan atau perbedaan di antara proses pembentukan kata dalam kedua bahasa tersebut?

2. Tujuan Penelitian
Berangkat dari rumusan permasalahan tersebut makalah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai:
a. Kata mana sajakah yang muncul sebagai kata baru dan telah dipergunakan dalam masyarakat.
b. Proses morfologi manakah yang dipergunakan sehinga pada saat yang sama akan ditemukan tingkat keajegan pengguna bahasa dalam membentuk kata baru.
c. Persamaan dan perbedaan antara proses pembentukan kata dalam kedua bahasa tersebut.

3. Batasan Masalah
Dalam mengidentifikasi kata baru, penulis memanfaatkan teks dalam iklan, hal ini dilakukan karena bahasa iklan merupakan bahasa kreatif sehingga diharapkan kreatifitas pengguna bahasa akan mudah dijumpai dalam teks semacam ini. Oleh sebab itu, penulis memilih dua majalah yaitu majalah Weekender dan Tempo, keduanya diambil dari edisi bulan November 2010 sampai dengan Januari 2011. Pembatasan juga diberikan pada batasan edisi terbitan majalah tersebut untuk menjamin keterbaruan data yang diperoleh.

4. Tinjauan Teoritis
Dari definisi dapat dipahami bahwa proses pembentukan kata merupakan sebuah proses di mana sebuah kata baru dihasilkan atau dibentuk melalui proses penambahan afiks terhadap kata dasar. Proses ini dapat mengakibatkan perubahan dalam dua hal yaitu perubahan kelas kata (parts of speech) atau perubahan makna. Proses pembentukan kata merupakan cabang linguistik yang berhubungan dengan pembentukan istilah. Seperti yang telah disebutkan pada bagian pendahuluan, kata “Xerox” sesungguhnya berasal dari kata lama akan tetapi diubah fungsinya sehingga menjadi kata baru, dimana proses pembentukan kata semacam ini disebut coinage, ini bila menggunakan rujukan teori dari proses pembentukan kata versi Bauer (1983: 238). Di samping hal tersebut Yule (1985: 51) menambahkan bahwa proses pembentukan kata ini merupakan hal mendasar yang diperlukan agar istilah atau kata baru dapat terbentuk. Dan masih menurut Yule (1985) proses pembentukan istilah atau kata baru tersebut meliputi beberapa proses yang diberi nama coinage, borrowing, compounding, blending, clipping, back formation, acronyms, multiple process, prefixes and suffixes, infixes.
Berbeda dengan pernyataan Yule (1985), Bauer (1993) mengklasifikasikan proses pembentukan kata ke dalam dua kelompok berdasarkan tingkat keajegan atau konsistensi dalam proses tersebut. Menurut Bauer, berdasarkan tingkat keajegan atau konsistensi terdapat proses yang memiliki tingkat regularitas atau keajegan tinggi, yaitu kata baru terbentuk melalui sebuah proses yang mengikuti pola atau rumus tertentu. Dengan kata lain, keajegan dalam proses memungkinkan ditariknya sebuah benang merah yang mengarah pada keseragaman pola. Kelompok ini disebut dengan predictable word formation proses atau proses pembentukan kata terpola. Sedangkan di sisi yang lain Bauer memberikan gambaran adanya proses yang secara pola tidak konsisten sehingga pola tersebut sangat sulit dibentuk. Proses semacam ini disebut unpredictable word formation atau proses pembentukan kata tak terpola. Pada proses kedua ini terdapat beberapa proses yang memiliki tingkat keajegan rendah yaitu blending, acronym, coinage, clipping, dan formasi campuran.
Berdasarkan definisi tersebut penelitian ini cenderung untuk menganut teori yang disampaikan oleh Bauer, karena pada kenyataanya tidak semua proses pembentukan kata baru memiliki keajegan dan mampu dirumuskan kedalam sebuah pola. Penelitian ini lebih memfokuskan pada pembentukan kata tak terpola karena fenomena ini sangat menarik untuk diteliti dan memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi dalam menghasilkan sebuah istilah baru.

Proses Pembentukan Kata Terpola
Ada satu sumber kata baru yang banyak dipergunakan untuk mendapatkan istilah baru dalam bahasa Inggris yaitu proses yang disebut borrowing. Melalui proses ini sebuah kata atau istilah baru diperoleh melalui proses peminjaman dari bahasa asing dan menggunakannya secara utuh tanpa mengubah sedikitpun bentuk maupun maknanya. (Howard (1988: 24-27) dan Yule (1985: 52-53) Beberapa kata bahasa Inggris yang diperoleh dari proses ini adalah misalnya beberapa kata yang dipinjam dari bahasa Jepang seperti Supamaketo (Supermarket) dan rajio (radio); dari bahasa Hungaria seperti klub dan futbal; atau dari bahasa Perancis seperti Le Parking, over a glass of le whisky, during le weekend.
Proses lain dalam kategori ini adalah proses yang disebut compounding, dalam proses ini terjadi penggabungan antara dua kata dasar dan membentuk kata baru dengan makna yang sama dengan kedua atau salah satu kata dasar tersebut. Dalam bahasa Inggris kata yang dihasilkan melalui proses ini sangat banyak sekali, seperti misalnya bookcase, fingerprint, sunburn, wallpaper, doorknob, textbox, wastebasket, and waterbed (Yule, 1985:53). Sedangkan dalam bahasa Indonesia proses semacam ini juga banyak dijumpai seperti misalnya kata atau frasa seperti rumah sakit, papan tulis dan lampu lalu lintas. Bauer (1983: 28) dan Robertson (1954: 191-198) memberikan penekanan pada proses ini bahwa ketika dua atau lebih elemen memiliki potensi untuk digabungkan dan membentuk stem atau kata dasar baru, memiliki makna sama dengan kata pembentuk maka terjadilah proses peleburan kata yang memiliki satu makna, bukan lagi dua. Proses ini yang disebut dengan compounding. Sebagai contoh dalam bahasa Inggris terdapat kata seperti an aircraft adalah craft atau alat yang dipergunakan untuk terbang di udara, akan tetapi kata an air conditioner memiliki makna pendingin udara.
Berdasarkan teori yang telah disampaikan oleh Yule (1985: 54) proses pembentukan kata berikutnya adalah back-formation. Proses ini meliputi proses pemotongan atau pengurangan (reduksi) pada bagian akhir sebuah kata, menjadi sebuah kata baru dengan fungsi yang berbeda. Biasanya kata yang merupakan kata benda mengalami proses reduksi dan berubah fungsi menjadi kata kerja. Namun proses ini kurang populer dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris proses pembentukan kata semacam ini sering terjadi, seperti misalnya kata television sebagai kata benda mengalami reduksi dan menjadi kata kerja televise. Adapun contoh kata yang lain adalah edit dari kata editor, donate dari donation, opt dari option, emote dari emotion, dan enthuse dari enthusiasm.
Kemudian, conversion merupakan salah satu bentuk proses pembentukan kata yaitu kata benda beralih fungsi sebagai kata kerja yang dalam penggunaanya proses reduksi tidak diperlukan (Yule, 1985: 54). Kata benda tersebut mengalami penyesuaian bentuk ketika berfungsi sebagai kata kerja di dalam kalimat. Sebagai contoh kata-kata berikut paper, butter, bottle, vacation, can adalah kata yang sering dipergunakan dalam proses conversion, seperti yang tampak pada kalimat berikut ini : He is papering the bedroom walls, have you buttered the toast, we bottled the home brew last night, they are vacationing in France.
Proses pembentukan kata yang lain adalah Derifatif (derivation) seperti yang dikutip oleh Yule (1985: 55), proses ini sering kali dijumpai dalam bahasa Inggris, bahkan dalam bahasa Indonesia proses ini sering kali menjadi perbincangan ketika berkenaan dengan proses pembentukan kata. Proses ini melibatkan proses afiksasi, seperti dalam bahasa Inggris proses tersebut terjadi pada kata berikut ini, elemen un-, mis-, pre-, -ful, -less, -ish, -ism, -ness muncul bersama dengan kata dasar menjadi unhappy, misrepresent, prejudge, joyful, careless, boyish, terrorism dan sadness.
Yule (1985: 55) juga menambahkan bahwa proses yang lain adalah proses prefiksasi dan sufiksasi. Jelas dalam proses ini bahwa awalan atau prefiks ditambahkan pada awal kata seperti dalam bahasa Inggris awalan un -. Sufiks atau akhiran yang ditambahkan di akhir kata seperti akhiran – ish. Misalnya kata seperti disrestpectful dimana kata ini memiliki prefiks dan sufiks dan kata foolishness yang memiliki dua akhiran atau sufiks.

Proses Pembentukan Kata Tak Terpola
Di samping proses pembentukan kata tersebut, proses yang memiliki tingkat keajegan tinggi sehingga mudah untuk ditarik benang merah berupa pola yang konsisten, menurut Bauer (1983:232) terdapat proses yang tidak dapat dihindari dapat menghasilkan kata baru meskipun cenderung tidak konsisten dan tidak teratur, sehingga sulit untuk ditarik dalam satu rumusan pola, proses ini disebut Unpredictable Word Formations atau proses pembentukan kata tak terpola. Menurut Aronoff (1976:20) proses semacam ini ada dan sulit untuk dicari tingkat universalitasnya. Proses ini meliputi blending, clipping, acronym, coinage (word manufacture), and mix formation.
Blending merupakan proses pembentukan kata yang melibatkan percampuran dan peleburan dua atau lebih kata yang kemudian membentuk kata baru. Biasanya, bila ada dua kata di-blending atau dibaurkan maka suku kata depan dari kata pertama bergabung dengan suku kata terakhir dari kata kedua. Akan tetapi dalam prakteknya, rumusan ini sering kali dilanggar dan ada kencenderungan blending terjadi tanpa mengikuti pola tertentu. Dalam bahasa Inggris terdapat beberapa contoh hasil pembentukan kata melalui proses ini, menurut Yule (1985: 53) kata gasoline yang dileburkan dengan kata alcohol, menghasilkan produk baru bernama gasohol. Dalam bahasa Indonesia proses ini juga cukup poluler, kata-kata berikut ini merupakan hasil dari proses blending: kamra (keamanan rakyat) atau curhat (curahan hati).
Menurut Yule (1985: 54) dan Stageberg (1977: 128) clipping merupakan proses pemendekan kata di mana sebuah kata dipotong pada akhir kata dan berfungsi sebagai kata baru tanpa harus mengubah makna dan fungsi kata tersebut. Biasanya terjadi dalam komunikasi lisan. Beberapa contoh hasil proses ini adalah: ad (advertisement), fan (fanatic), bus, plane, prof, lab, and flu. Seberapa panjang pemotongan kata sulit untuk dicari konsistensinya karena terdapat kecenderungan untuk memotong kata pada sembarang tempat.
Proses berikutnya adalah acronym di mana huruf depan diambil dan digabungkan dengan huruf depan beberapa kata yang digabungkan. Seperti misalnya NATO, NASA atau UNESCO, atau seperti laser (light amplification by stimulated emission of radiation), radar (radio detecting and ranging), dan scuba (self contained underwater breathing apparatus).
Yule (1958: 52) menyebutkan di antara proses pada kategori tersebut terdapat satu proses yang paling tidak umum dan jarang ditemukan di setiap bahasa, proses ini disebut coinage. Proses ini merupakan proses yang menghasilkan kata baru dari merek dagang atau sesuatu yang sangat memasyarakat di kalangan masyarakat kemudian diadopsi kata tersebut menjadi istilah baru. Kata seperti aspirin sesungguhnya berasal dari merek dagang obat tertentu. Di Indonesia, blue band merupakan merek margarine terkenal, kata ini karena proses coinage dapat menjadi kata baru. Misalnya “pisang goreng digoreng pakai blue band (maksudnya margarine) saja biar enak”. Jadi karena sebuah merek dagang telah terkenal maka merek tersebut dipinjam untuk menjadi kata baru.

5. Metodologi
Dalam penelitian ini, hanya data qualitatif yang dipergunakan untuk mendukung temuan sedangkan proses analisa dilakukan dengan proses identifikasi, klasifikasi, serta verifikaisi data sehingga diperoleh gambaran atau deskripsi konkret dari sebuah fenomena. Dengan kata lain penelitian ini menggunakan metode deskriptif qualitatif sehingga akhir dari penelitian ini akan ditulis dalam bentuk penjelasan panjang dan detail mengenai fenomena pembentukan kata dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
6. Hasil Temuan dan Pembahasan
Dari proses pengumpulan data, penyortiran data, serta akhirnya mengklasifikasikan data sesuai dengan proses pembentukan kata tak berpola. Dari tiga bulan edisi majalah Weekender dan Tempo diperoleh 37 kata baru dalam bahasa Inggris dan 52 dalam bahasa Indonesia, yang kesemua data tersebut telah ditabulasikan pada table 1 dan 2 berikut ini.
Pada table 1. Dibawah ini terlihat adanya klasifikasi dari ke 37 kata baru yang tak berpola, terdapat 4 proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan kata dalam bahasa Inggris yaitu clipping, blending, acronym, dan coinage. Serta terdapat satu kelompok kata yang proses pembentukannya cenderung bebas dan tidak mematuhi pola salah satu proses pembentukan kata sehingga mereka dikategorikan sebagai kelompok proses mixed formation. Dalam mixed formation, dua atau bahkan lebih proses dapat terlibat menghasilkan satu kata baru. Hal ini menambah tinggi tingkat ketidak ajegan dari kelompok proses pembentukan kata ini.
Bila ditinjau dari jumlah kemunculannya dari sumber data maka dapat dilihat bahwa dalam bahasa Inggris jumlah mixed formation memiliki tingkat kemunculan tertinggi, sedangkan coinage yang memiliki tingkat keajegan dalam proses pembuatanya tidak dapat ditemukan di dalam sumber data. Hal ini menggambarkan bahwa sangat sulit mendapatkan keajegan dalam proses pembentukan kata dalam bahasa Inggris karena kata baru sering kali muncul tanpa memperhatikan kaidah-kaidah atau pola-pola yang terdapat dalam proses pembentukan kata.
Tabel 1. Proses Pembentukan Kata Tak Terpola dalam Bahasa Inggris




No


Data Proses Pembentukan Kata Tak Terpola
Clipping Blending Acronym Coinage Formationon Campuran
1 Mod Modern v
2 Cons Conveniences v
3 Glam Glamour v
4 Quest Questions v
5 Pics Pictures v
6 Celebs Celebrities v
7 Luxe Luxerious v
8 Hi-tech High Technology v
9 Foodtech Food Technology v
10 Ecotourism Ecological Tourism v
11 Eco-friendly Ecological Friendly v
12 Bio-essence Biological essence v
13 Promilk Protein milk v
14 Propak Product Pack v
15 Femail Female mail v
16 BOTOX Botulinum and Toxin v
17 UBS Union Bank of Switzerland v
18 ANZ Australia and New Zealand v
19 UOB United Overseas Bank v
20 DKNY Donna Karan New York v
21 MOCA Museum of Contemporary Art. v
22 Lubriplate Lubricant plate v
23 Synxtreme synchronize and extreme v
24 Diorsnow Dior Snow v
25 Kenzoamour Kenzo glamour v
26 ESOne Easy Share One v
27 Combibloc Combi block v
28 Combifit Combi fit v
29 Combishape Combi shape v
30 Biogradable Biology gradable v
31 Shinylicious Shiny delicious v
32 Pinkolicious Pink delicious v
33 Benefactor Beneficial factor v
34 Outbondholic Out Bond holic v
35 Bitchfest Bitch Festival v
36 Auto-bake Automatic bake v
37 Dermo-Expertise Dermatology Expertise v
Total 7 9 5 0 16

Tabel 2. Proses Pembentukan Kata Tak Terpola dalam Bahasa Indonesia



No.



Data Proses Pembentukan Kata Tak Terpola
Clipping Blending Acronym Coinage Formasi Campuran


1 Pur Purnawirawan v
2 Demo Demonstrasi v
3 Info Informasi v
4 Panwaslu Panitia Pengawas Pemilu v
5 Pansus Panitia Khusus v
6 Cawagub Calon Wakil Gubernur v
7 Jurdil Jujur dan Adil v
8 Jurkam Juru Kampanye v
9 Korut Korea Utara v
10 Markus Makelar Kasus v
11 Pilpres Pilihan Presiden v
12 Menkeu Menteri keuangan v
13 Mendagri Menteri Dalam Negeri v
14 Komnas Komisi Nasional v
15 Musrenbangnas Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional v
16 Munas Musyawarah Nasional v
17 Pilrek Pilihan Rektor v
18 Ponsel Telepon Seluler v
19 Kombespol Komisaris Besar Polisi v
20 Mabes Markas Besar v
21 Dephut Departemen Perhutanan v
22 Menhut Menteri Kehutanan v
23 polwan Polisi wanita v
24 puslabfor Pusat Laboratorium Forensik v
25 Kejati Kejaksaan Tinggi v
26 deplu Departemen Luar Negeri v
27 Mendagri Menteri Dalam Negeri v
28 depdagri Departemen Dalam Negeri v
29 menpera Menteri Perumahan Rakyat v
30 pokja Kelompok Kerja v
31 warnet Warung Internet v
32 sidak Inspeksi Mendadak v
33 rakernas Rapat Kerja nasional v
34 nomat Nonton Hemat v
35 Pintong Pindah Tongkrongan v
36 wajar Wajib Belajar v
37 Hardiknas Hari Pendidikan Nasional v
38 parpol Partai Politik v
39 menpora Menteri Pemuda dan Olah Raga v
40 HAM Hak Assasi Manusia v
41 KPK
Komisi Pemberantas Korupsi v
42 SABH Sistem Administrasi Badan Hukum v
43 PN Pengadilan Tinggi v
44 KSSK
Komite Stabilitas Sistem Keuangan v
45 BPK Badan Pemeriksa Keuangan v
46 KUHP
Kitab Undang-Undang dan Hukum Pidana v
47 UU Pers Undang Undang Pers v
48 wakapolri
Wakil Kepala Polisi Republik Indonesia v
49 POLRI Polisi Republik Indonesia v
50 Meninfokom Menteri Informasi dan Komunikasi v
51 perpu Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang v
52 sisminbakum Sistem Administrasi Badan Hukum v
Total 3 36 7 6

Pada table 2. ditemukan sejumlah 52 kata baru yang diperoleh, dapat dikategorikan bahwa terdapat 3 clipping, 36 blending, 7 acronym, dan 6 formasi campuran atau mixed formation. Sama seperti bahasa Inggris coinage tidak dapat ditemukan dalam data yang terkumpul. Bila dalam bahasa Inggris pola yang banyak dipakai adalah mixed formation yang dipergunakan. Mixed formation di mana orang akan cenderung secara bebas tanpa memperhatikan pola untuk membentuk kata baru. Sedangkan dalam bahasa Indonesia memiliki tingkat yang tinggi dalam pembentukan kata melalui proses blending. Dibandingkan mixed formation, blending lebih memiliki pola yang konsisten.



7. Kesimpulan
Tabel 3. Komparasi antara tingkat keajegan pada proses pembentukan kata tak terpola dalam bahasa Indonesia dan Inggris dapat digambarkan dalam diskripsi pola dari masing-masing proses.
Proses Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Kesamaan Clipping Pemotongan suku kata, huruf, atau bagian akhir dari sebuah kata Pemotongan suku kata, huruf, atan bagian akhir dari sebuah kata
Acronym Huruf awal kata digabungkan dengan beberapa huruf awal masing-masing kata yang terdapat dalam proses pembentukan kata. Huruf awal kata digabungkan dengan beberapa huruf awal masing-maing kata yang terdapat dalam proses pembentukan kata.
Blending Suku kata bagian depan kata pertama digabungkan dengan suku kata belakang dari kata yang lainya. Suku kata bagian depan kata pertama digabungkan dengan sillabel belakang dari kata yang lainya.
Perbedaan Blending a. Blending Dua Kata
- Huruf inisial + Huruf final
- Huruf final + Huruf inisial
- Huruf inisial+ suku kata kedua + Huruf inisial
- Huruf final + huruf final

b. Blending tiga kata atau lebih
- Huruf inisial + Final + Final
- Huruf inisial +Huruf inisial + Huruf inisial
- Huruf inisial + Huruf inisial + Final
- Huruf inisial-kedua + Huruf inisial+ Huruf inisial
a. Huruf inisial + kata dasar
b. Kata dasar + Huruf inisial
c. Satu suku kata (dengan beberapa perubahan fonologis) + Huruf inisial

Mixed Formation a. Kata dasar + Huruf inisial dari kata
b. Kata dasar + kata dengan perubahan huruf hidup
c. Huruf inisial + Kata Dasar
d. Huruf inisial + Kata Dasar / Blending + Morfem terikat
e. Kata Dasar+ Huruf inisial
f. Coinage + Kata Dasar
g. Coinage + Clipping
h. Acronym + Kata Dasar
i. Kata Dasar + Acronym
a. Acronym+ Kata dasar
b. Blending + Acronym
c. Clipping + Acronym
d. Blending + Clipping

Dari rumusan yang terdapat pada table 3. menunjukkan bahwa pada proses pembentukan kata dalam bahasa Indonesia dan Inggris, persamaan masih dapat ditemukan di tengah-tengah tingkat ketidak ajegan yang tinggi. Demikian pula dalam perbedaan dari kedua bahasa tersebut, beberapa pola masih dapat ditarik sebagai kesimpulan di mana pola ini sangat dibutuhkan oleh pengguna bahasa lain untuk mengikuti proses yang telah ada.
Daftar Pustaka
Bauer, Laurie. 1983. English Word Formation. New York: Cambridge University
Press.

Bogdan, Robert C. and Biklen, Sari Knoop. 1998. Qualitative Research in Education: An Introduction to Theory and Method. Needham Heights: AViacom Company.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi: Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Evelyn Hatch and Cheryl Brown. 1995. Vocabulary Semantic and Language
Education. New York: Cambridge University Press.

Francis, W. Nelson. 1958. The Structure of American English. New York: New York Press.

Franklin, Victoria and Rodman, Robert. 1983. An Introduction to Language.
Canada: CBS College Publishing.

Howard, Jackson. 1988. Word and Meaning. New York: Longman Inc.
Matthews. 1974. Morphology. New York: Cambridge University Press.
Nashr, T. Raja. 1980. The Essential of Linguistic Science. London: Cambridge
University Press.

Travers, Robert, M.W. 1969. An Introduction to Educational Research. Mac
Milan Company, Inc.

Yule, George. 1985. The Study of Language. Cambridge: Cambridge University
Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar